My Minithesis (sedang di Perjuangkan!)

CITRA HERO DALAM FILM ANIMASI LUTUNG KASARUNG DAN CALONARANG

(Analisis Semiotik tentang Citra Hero dalam Film Animasi Lutung Kasarung dan Calonarang Produksi PT. Bening Studio)

 

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Seperti manusia pada umumnya, tentu kita punya seorang sosok yang diidolakan (laki-laki maupun perempuan); seperti Ayah atau Ibu, Muhammad, Einstien, Che Guevara, Beethoven, atau pahlawan Nasional kita: P. Diponegoro, Jendral Soedirman, atau R. A. Kartini. Begitu juga dengan tokoh-tokoh dalam film fiktif: Superman, Spiderman, Hulk, Cat Woman, atau Satria Baja Hitam dan seterusnya.
Beberapa tokoh diatas sering disebut sebagai hero terlebih oleh anak-anak seperti Superman, Spiderman, Rambo, Batman, Cat Woman atau Batgirl. Aksi-aksi dalam film memang berkesan heroik: maju tak gentar membela yang lemah dan yang benar dan berjasa bagi kebanyakan orang, seperti dalam film Superman Return: ketika adegan menyelamatkan sebuah pesawat yang akan jatuh menimpa ratusan ribu penonton pertandingan baseball yang diiringi dengan gemuruh tepukan tangan oleh ratusan penonton dalam bioskop.
Sejalan dengan pencarian jati diri yang tanpa henti, sebagian masyarakat (terlebih kaum muda), tak jarang mereka lantas meniru, mengkopi, menduplikasi, dan mereproduksi citra yang melekat pada hero bahkan sampai pada seluruh atribut yang menyertainya. Sikap masyarakat yang demikian, yang akhirnya menimbulkan rasa kerinduan publik akan hadirnya hero. Kemudian masyarakat menjadi butuh akan sosok seorang hero.
Dalam masyarakat, kerinduan serta kebutuhan publik akan hadiranya pahlawan telah memicu para kreator film dengan cara menghadirkan kembali (representasition) tokoh-tokoh kepahlawanan dalam sebuah film yang dikemes dengan apik. Para kreator film juga melihat hal ini sebagai peluang bisnis sehingga tak sedikit para kreator film akhirnya menghasilkan sosok hero secara fiktif (fictional heroes). Sosok hero yang berlebihan. Jauh dari yang sebenarnya dan jauh dari kodrat manusia.
Sepertinya benar, ketika kita berbicara mengenai media, kita berhadapan dengan suatu institusi yang besar, dimana media tidak lepas dari komoditas budaya serta ideologi yang dibawanya. Ia bukanlah suatu yang netral tanpa nilai. Ia hadir dengan membawa berbagai muatan: ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Media massa cetak, radio, televisi, dan film, mampu menghadirkan suatu produk hingga populer, membudaya, sarat akan nilai-nilai dan kepentingan. Bahkan pada tingkat yang lebih kompleks, media bahkan memiliki kekuasaan untuk mengarahkan serta mengendalikan opini, sikap, dan wacana masyarakat.
Dengan demikian, dasar kebutuhan dan kerinduan masyarakat tentang sosok hero serta ideologi media massa dan masyarakatnya cenderung menjadi faktor paling utama bagi media dalam membangun citra seorang hero dengan cara berlebihan.
Seiring dengan percepatan informasi yang begitu pesat, dan didukung dengan teknologi yang semakin canggih, film yang berbasis realitas#, citra seorang hero dapat dibangun menjadi lebih believable (dapat mungkin dipercaya). Tokoh super-hero fiktif seperti Superman, Cat Woman, Hulk dan kawan-kawan, nyaris digambarkan seperti nyata#. Seperti pada Superman dengan adegan terbangnya di udara, Spiderman dengan loncatan antar gedung di New York, atau Hulk dengan berubah wujudnya. Adegan ini hampir tidak dapat dibedakan melalui kasat mata antara adegan nyata atau buatan. Adegan ini nampak seperti real. Aksi-aksi yang mereka lakukan telah memperkuat persepsi kita tentang citra seorang hero dalam sebuah film. Sehingga dengan mudahnya kita sebut sebagai hero. Selanjunya hero menjadi lebih dihargai ketika ia berada pada batas yang tipis antara fantasi dan realitas.
Gambaran sosok hero diatas kebanyakan sering melekat pada film-film Western. Orang Barat memang mampu mancari alasan yang tepat dan rasional atas adegan-adegan yang mereka buat hingga penonton percaya apa yang dilihatnya. Mereka mampu memenuhi syarat akan belivable dimana hal ini yang menjadi peran penting dalam membangun citra seorang hero. Mereka mampu menjelaskan asal-usul cerita secara logis meski berbasis fiktif. Seperti pada cerita Spiderman, alasan sebuah gigitan seekor laba-labalah yang menjadi asal-usul kemampuannya yang bisa menyerupai seekor laba-laba atau kekuatan luar biasa Superman yang dalam ceritanya karena ia dilahirkan dari planet Kripton, sehingga menjadi mungkin ketika ia mempunyai kemampuan untuk terbang.
Gambaran mental yang sering melekat pada film-film Barat memiliki kekhasan tersendiri yakni orang-orang yang terpecah jiwanya (splitted personality); di satu sisi merasa sangat minder dan insecure (lemah) namun di sisi lain dapat berubah menjadi manusia yang super-hero. Superman misalnya: seorang reporter dari surat kabar Daily Planet yang selalu berpenampilan sederhana dalam sehari-hari (low profile), namun ia dapat berubah menjadi manusia luar biasa. Atau Spiderman: remaja pemalu yang selalu menjadi bulan-bulanan teman-temannya di sekolah (insecure), tapi dia bisa berubah menjadi seorang manusia super-hero. Biasanya ia juga bersifat individualistik yang digambarkan dengan seseorang yang sempurna “ideal”: bertubuh atletis, berwajah tampan atau cantik, macho, kuat serta berotot. Gambaran hero diatas lebih bersifat fisik (physically). Mereka cenderung tak terkalahkan. Selain itu mereka juga sering memakai topeng: Spiderman, Batman, Zorro, Phantom, atau Cat woman; yakni pahlawan yang takut menampilkan jati diri mereka. Mereka selalu bergulat dengan identitas diri mereka: seorang manusia lemah di satu sisi, dan seorang manusia super di sisi lain.
Pada realitasnya, meski terdapat unsur-unsur diluar kemampuan manusia, film tersebut tetap berhasil membuat adegan menjadi realistik, sehingga citra yang melekat pada hero menjadi lebih mudah masuk kepada pikiran kita, kemudian mempengaruhi cara pandang kita terhadap citra seorang hero; disebut hero jika mempunyai tubuh yang ideal, kuat, macho, gagah, berani, cantik atau tampan dan seterusnya.
Dari realitas diatas, merupakan bukti dimana media massa (disadari maupun tidak) membawa ideologi-ideologi tertentu; yang kemudian disuntikkan kepada khalayak mengenai citra tentang hero. Dengan melalui berbagai sistem tanda: ikon, indeks, atau simbol, film mampu membuat khalayak percaya; bahwa siapa yang disebut hero adalah orang yang lekat dengan idealisme, individualisme, bahkan materialisme.
Meminjam konsep ideologi Althusser, yakni suatu kepercayaan yang tertanam tanpa disadari. Bagi Althusser, ideologi membawa kita bergerak dalam relasi yang tak nyata namun seolah nyata, menerima yang semu seperti nyata, yang fana sebagai abadi. Tetapi, oleh karena sifatnya yang tak disadari, manusia merespon seolah semua itu nyata, menanggapi ilusi sebagai realitas sesungguhnya. Begitu kuatnya pengaruhnya sehingga ilusi-ilusi itu tak dapat diabaikan, tak dapat ditolak oleh manusia#.
Akibat berkembangnya fantasi yang semakin kuat, rancangan adegan yang spektakuler, plot cerita hero yang menjauhi realitas kehidupan menyebabkan penggambaran hero menjadi berlebihan, sekalipun secara visual dapat digambarkan dengan cara yang meyakinkan, sehingga penggambaran citra hero di atas cenderung berbalik menjadi anti-hero, dimana citra seorang hero menjadi terlihat dari sifat fisiknya saja. Dengan demikian simbolisasi kepahlawanan di atas menjadi tanpa makna (meaningless). Bahwa citra hero menjadi dekat dengan idealisme, individualisme, atau meterialisme. Seorang hero yang jauh dari realitas sebenarnya. Jauh dari kodrat manusia sesungguhnya, dimana hero juga memiliki rasa sakit atau takut, butuh batuan orang lain atau tidak dapat bekerja sendirian, sehingga tak perlu merasa terasing.
Sepertinya menarik meneliti tokoh-tokoh yang terdapat pada cerita legenda Nusantara seperti: Timun Mas, Cindelaras, Bawang merah dan Bawang putih, Cindelaras, Calonarang atau Lutung Kasarung. Mereka juga orang-orang yang bisa disebut hero. Mereka sering membawa pesan-pesan moral: kebersamaan, cinta-kasih, tolong-menolong dan sebagainya. Citra hero dalam kisah-kisah ini berbeda dengan citra hero pada kebanyakan film-film Barat.
Menurut Yohanes Sutopo#, citra hero dalam budaya kita, adalah sama seperti dalam filosofi Jawa yang bersandar pada kekuatan harmoni: yakni selaras dengan dunianya, seperti dalam menghadapi kejahatan misalnya; kejahatan dipandang sebagai pelanggaran yang tidak harmoni. Maka seorang ksatria (hero) Jawa dalam menghadapi kejahatan adalah: berserah diri kepada sang pencipta (Hyang Agung)#. Budaya Barat menurut Sutopo cenderung memuja kebebasan dan kemajuan individu sehingga menghasilkan sosok-sosok hero yang terombang-ambing dengan pencarian akan identitas diri mereka: merasa insecure dan terasing di satu sisi; tapi di sisi lain selalu rindu untuk menjadi sosok yang superior. Menurutnya, seorang hero pada dasarnya mengajarkan seseorang untuk ‘menipiskan’ perasaan akan diri (ego) dan mengutamakan kebersamaan dan gotong-royong, sosok-sosok hero yang lebih utuh kepribadiannya, berpembawaan tenang, dan selaras dengan lingkungannya.
Objek penelitian ini adalah Lutung Kasarung dan Calonarang. Keduanya adalah cerita legenda Nusantara yang notabene adalah cerita yang dianggap benar-benar terjadi#. Seperti Lutung Kasarung (artinya lutung yang tersesat) misalnya, adalah legenda masyarakat Sunda yang menceritakan perjalanan Syangyang Guruminda dari khayangan yang diturunkan ke Buana Panca Tengah (bumi) dalam seekor lutung (sejenis monyet)#.
Menjadi menarik ketika tokoh Lutung Kasarung ini juga bersifat splitted personality. Ia memiliki ilmu sakti yang dapat merubah wujudnya menjadi seekor lutung. Sekilas citra hero ini mirip seperti yang digambarkan citra hero pada kebanyakan film Barat. Dalam film Lutung Kasarung, Arya Panilung selalu membela yang lemah dan benar, memerangi kejahatan, suka menolong, pemaaf, cerdas, serta selaras dengan lingkungannya. Ia selalu merubah wujudnya disaat sedang mengobati Putri Saiyang. Seolah ia selalu menyembunyikan identitasnya dalam melakukan kebaikan.
Objek penelitian ini adalah film produksi PT. Bening Studio (Bening Studio). Sebagai salah satu media massa, Bening Studio, dengan visinya “menjadi perusahaan animasi yang menghasilkan produk yang memiliki kualitas spiritual, kultur dan edukasi bagi dunia, menjadi lingkungan produktif dan berkembang berlandaskan Spiritual, edukasi dan menghibur”, secara konsisten telah banyak memproduksi film animasi-anak dalam format edukasi dan entertainmen yang berlatar belakang legenda Nusantara.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimana PT. Bening Studio mengkonstruksi Citra Hero dalam film animasi Lutung Kasarung dan Calonarang
OBYEK PENELITIAN
Obyek penelitian ini ada film animasi legenda Nusantara Lutung Kasarung dan Calonarang produksi PT. Bening Studio

C. TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui bagaimana konstruksi Citra Hero dalam film Lutung Kasarung dan Calonarang

D. MANFAAT PENELITIAN
E. Manfaat Teoritis
Hasil Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam penelitian karya-karya ilmiah selanjutnya, khususnya bagaimana membaca dan memaknai konstruksi citra hero dengan menggunakan analisis semiotik
1. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi perusahaan Bening, dalam mengembangkan tentang konsep konstruksi citra hero